oleh

Riset Pemantuan Obat, KRPK Soroti Kelangkaan Obat

BLITAR,newsKabarIndonesia.Com : Laporan riset pemantauan obat yang dilaksanakan oleh KRPK selama tiga bulan di wilayah Kabupaten dan Kota Blitar di Rumah Sakit Umum Daerah/RSUD dan fasilitas kesehatan, KRPK menggelar Konferensi Pers Peningkatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Blitar Raya di Aula Kampung Rakyat KRPK. Sabtu (29/09/2018).

Sebagai isu Nasional, adanya kelangkaan atau kekosongan obat muncul adanya potensi peserta JKN – KIS harus membeli obat diluar Rumah Sakit, padahal obat semestinya sudah termasuk dalam tarif INA CBG’s/ Oleh karena itu ICW mencoba menggandeng beberapa mitra kerja di daerah salah satunya KRPK, utnuk mengadakan riset pemantauan obat dalam kurun waktu bulan Juli 2018 sampai Januari 2019. Dalam waktu tiga bulan periode Juli – September 201, KRPK Blitar telah melakukan riset pemantauan obat kepada lebih dari 100 pasien BPJS Kesehatan dengan melakukan investigasi advokasi dengan mendampingi pasien sekaligus mewancarainya utnuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Berdasarkan uraian yang disampaikan oleh Koordinator KRPK, Imam Nawawi dan Divisi Risetnya memaparkan hasil riset pemantauan diketahui ” bahwa jumlah pasien yang berhasil di advokasi selama kurun waktu tiga bulan sejumlah 101 orang pasien tersebut terdapat 7 orang pasien yang menjadi temuan utama diantaranya diketahui 5 orang pasien ditemukan membeli obat diluar apotik Rumah Sakit karena persediaan obat habis atau kosong, 1 orang pasien mendapat jatah kurang dari jatah yang seharusnya dan 1 orang pasien harus membeli obat di luar Rumah Sakit karena obat yang dibutuhkan tidak masuk dalam Formularium Nasional ( Fornas, Red )\’, urainya.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa memang ada obat yang sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan yang semestinya pasien mendapatkannya cuma – cuma tapi pasien harus membelinya di apotik luar Rumah Sakit disebabkan karena persediaan obat tersebut kosong.

” Dan ada juga obat yang memang dari awal tidak masuk dalam Fornas namun oleh Dokter disarankan dan dibuatkan resep untuk dibeli oleh psien diluar apotik Rumah Sakit dengan alasan untuk mempercepat kesembuhan pasien itu sendiri. Meskipun sebenarnya bisa diganti obat tersebut dengan obat sejenis yang sesuai dengan Fornas tapi memiliki fungsi dan khasiat yang sama’ terlebih jika pasien tersebut termasuk golongan yang tidak mampu dan merasa keberatan jika harus membeli di luar apotik dengan biaya sendiri”, tambahnya.

Dengan melihat keadaan yang terjadi di lapangan dan berdasarkan data yang sudah dianalisis, maka KRPK memberikan rekomendasi kepada Rumah Sakit, Puskesmas, Dokter, BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan sebagai pemangku kepentingan dan masyarakat sebagai pasien agar pihak – pihak terkait lebih mengutamakan kepentingan pasien dan mencari solusi obat alternatif yang ada didalam Fornas tapi memiliki khasiat dan fungsi yang sama sesuai dengan kebutuhan pasien terutama disini peran Dokter yang utama untuk mencegah pasien mengeluarkan biaya tambahan di luar yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan. (Fen/Hen/Red)

Facebook Comments

Komentar

News Feed