Newskabarindonesia.com – Lampung Selatan – Deru ombak di pesisir Rajabasa selama ini bukan hanya suara laut, tetapi juga sumber kecemasan warga. Setiap musim pasang, lahan terkikis, perahu rusak, bahkan rumah terancam abrasi.
Namun kini secercah harapan hadir. Pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung, Kementerian PUPR, membangun pemecah ombak dan pengaman pantai di Desa Banding dan Desa Canti, Kecamatan Rajabasa. Proyek senilai Rp27,07 miliar ini dimulai 20 Agustus 2025 dan ditargetkan selesai dalam 134 hari kerja. 28/9/2025
Di tepi pantai, suasana berubah. Truk hilir-mudik, alat berat bekerja, dan pekerja—banyak di antaranya warga setempat—sibuk menata buis beton.
“Alhamdulillah, kami bisa ikut bekerja di proyek ini. Selain menambah penghasilan, rasanya bangga karena ikut membangun perlindungan kampung sendiri,” tutur Junaidi, warga Desa Banding.
Abrasi selama bertahun-tahun telah memakan lahan sedikit demi sedikit. Pohon kelapa tumbang, tambak hilang, bahkan rumah-rumah harus dipindahkan.
“Kalau tidak ada pemecah ombak, entah apa jadinya nanti. Anak-cucu kami bisa kehilangan tempat tinggal,” ungkap Siti Aisyah, seorang ibu rumah tangga.
Kontraktor pelaksana PT Fata Perdana Mandiri bersama konsultan pengawas memastikan proyek berjalan sesuai spesifikasi. PPK proyek, Ketut Purne, ST, MT, menegaskan, “Ini bukan sekadar pembangunan, tapi perlindungan hidup masyarakat pesisir.”
Direksi proyek, Ilham, ST, menambahkan, “Keberhasilan proyek ini ditentukan juga oleh dukungan warga. Kami ingin semua pihak merasakan manfaat dan ikut menjaga hasil pembangunan.”
Bagi warga Rajabasa, pemecah ombak ini bukan hanya tumpukan batu dan beton, tetapi simbol hadirnya negara.
“Kami sering merasa sendiri menghadapi laut. Tapi sekarang ada perhatian, ada langkah nyata. Rasanya lebih tenang,” ucap seorang nelayan.
Selain menahan abrasi, pemerintah berharap bangunan ini membuka peluang baru. Pantai yang aman dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata, sehingga meningkatkan kesejahteraan warga.
Kini progres pembangunan sudah mencapai 15 persen. Semangat warga pun ikut tumbuh.
“Bagi kami, ini bukan hanya proyek. Ini harapan baru, agar kampung kami tetap ada, agar laut yang dulu menakutkan bisa kembali menjadi sahabat,” kata Junaidi sambil tersenyum.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, pemecah ombak Rajabasa adalah cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan janji masa depan yang lebih aman bagi masyarakat pesisir Lampung Selatan. (Imron)


















